
Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global. Berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral AS hingga ketegangan geopolitik, memengaruhi pelemahan rupiah.
Pada perdagangan awal pekan, rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp16.400 per dolar AS. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar dan masyarakat mulai mencermati dampaknya terhadap harga kebutuhan impor serta stabilitas ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Fikri Ramadhan, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak berasal dari faktor global dibandingkan kondisi domestik.
“Penguatan dolar AS terjadi karena investor global mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Hal ini memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Fikri Pada wawancara, Selasa (27/5).
Menurutnya, keputusan bank sentral AS yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, analis pasar keuangan dari Center for Economic and Financial Studies, Dina Maharani, mengatakan bahwa situasi geopolitik dunia juga turut memengaruhi pergerakan mata uang.
“Ketegangan geopolitik di beberapa kawasan membuat pasar lebih berhati-hati. Investor memilih menempatkan dana mereka pada instrumen yang lebih stabil seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika,” jelas Dina.
Meski demikian, para pengamat ekonomi menilai pemerintah dan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar serta penguatan cadangan devisa.
Di sisi lain, para ekonom memeperkirakan pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor. Produk-produk yang terdampak paling terasa adalah produk elektronik, bahan baku industri, dan kebutuhan energi. Namun, sektor ekspor dinilai berpotensi mendapat keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Ekonom mengharapkan kondisi global dapat kembali stabil sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang perlahan mereda. Ekonomon mendorong Pemerintah juga untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik guna menghadapi gejolak pasar internasional yang masih berlangsung.